Aksi Speed di Libur Hari Raya: Semua butuh libur dan penghidupan, namun ada yang lebih takut kehilangan Al-Aqsha
Ketika menerima permintaan yang (agak) mendadak untuk menyampaikan orasi di sebuah aksi bela Palestina, saya agak terkaget-kaget juga. Lebih terkejut lagi ketika mengetahui bahwa aksi ini sedianya akan diikuti oleh para anggota Serikat Pengemudi Daring (SPEED) dari berbagai wilayah di sekitar Jabodetabek.
Yup, pengemudi daring, atau yang lebih akrab kita kenal sebagai supir ojol; merekalah yang menggelar aksi kali ini. Hari-hari ini, kehidupan mereka tak jauh beda dengan kita. Masih dalam suasana Lebaran, mereka punya hak sepenuhnya untuk libur sejenak dan menghabiskan waktu bersama keluarga barang untuk beberapa hari saja. Sebagian di antara mereka bahkan tidak pernah benar-benar libur, karena — semua pun tahu — zaman sedang sulit, negeri tidak sedang baik-baik saja, namun anak-istri harus tetap makan.
Meski opsi untuk libur atau mencari nafkah sepenuhnya sah untuk diambil, pada kenyataannya di sinilah mereka; membiarkan terik matahari sore membakar kulit, berpanas-panas di depan Kedubes AS. Semua butuh libur dan penghidupan, namun ada yang lebih takut kehilangan Al-Aqsha.
Berjuang adalah pilihan yang takkan diambil oleh semua orang. Bahkan, kalau harus berpahit-pahit, beranilah saya mengatakan bahwa sebagian besar manusia lebih suka menghindar dari jalan perjuangan.
Ya Allah, ketika Masjidil Aqsha terbebas dari penindasan ini, cantumkanlah nama-nama kami dalam daftar orang-orang yang memperjuangkannya!
Comments
Post a Comment