Di balik helm hijau dan jaket lusuh seorang pengemudi ojek daring, tersimpan kisah luar biasa tentang keteguhan hati, cinta keluarga, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan menuju martabat.
Dialah Abdul Manaf, pria kelahiran Jombang, 5 April 1973, yang akhirnya lulus sebagai Sarjana Ekonomi pada 15 September 2025 dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) GICI Business School Depok — setelah menempuh perjalanan pendidikan selama lebih dari dua dekade.
Awal Perjuangan: Mimpi yang Sempat Terhenti
Manaf mulai kuliah pada tahun 1998. Namun, nasib belum berpihak. Ia harus berpindah-pindah kampus karena tidak mampu membayar biaya kuliah.
Beberapa kali mencoba peruntungan di kampus berbeda — STAI Al-Hikmah Jakarta, STIE Tunas Patria Depok, dan STAI Salahudin Alayubi Rawamangun — tapi semuanya hanya bertahan satu semester.
“Bukan karena saya malas, tapi memang tak punya biaya. Saat anak mulai masuk sekolah dan kuliah, saya pilih berhenti dan fokus ke mereka,” ujarnya.
Menjadi Ojol: Jalan Rezeki dan Sekolah Kehidupan
Ketika dunia digital membuka peluang baru, Manaf menjadi pengemudi ojek online (ojol) di Depok.
Dari hasil ngojol itulah, ia menghidupi keluarga dan menabung untuk kuliah kembali.
Tahun 2019, ia memberanikan diri mendaftar di STIE GICI Business School.
Biaya kuliah sebagian besar ditopang dari hasil ngojol, sisanya dibantu oleh orang-orang baik yang terinspirasi oleh semangatnya.
Sebagai pengemudi ojol, Manaf tak hanya bekerja — ia juga aktif dalam organisasi, menjabat sebagai Koordinator Wilayah Serikat Pengemudi Daring (Speed) Jawa Barat periode 2023–2025.
Ujian Berat: Stroke yang Menghentikan Langkah, Tapi Tidak Semangat
Di tengah perjuangan itu, Manaf terkena stroke. Tubuhnya melemah, dan ia tak lagi bisa beraktivitas sebagai ojol.
Namun semangatnya tak ikut lumpuh. Ia tetap melanjutkan kuliah, dengan langkah pelan tapi pasti.
“Buat saya, tanggung jawab itu harus dituntaskan. Saya ingin buktikan, walau badan lemah, semangat jangan ikut lumpuh,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Akhirnya Lulus: Persembahan untuk Keluarga dan Martabat Diri
Setelah enam tahun di STIE GICI Business School, Abdul Manaf akhirnya menyelesaikan studi dan meraih gelar Sarjana Ekonomi.
Bagi sebagian orang, usia 52 tahun mungkin sudah saatnya menikmati pensiun.
Bagi Manaf, justru itulah saatnya memetik buah dari ketekunan dan doa panjang.
Ia sering berkata,
“Saya kuliah bukan untuk cari kerja. Saya kuliah supaya tidak bodoh-bodoh amat. Supaya sebagai ojol, saya bisa berpikir sistematis dan paham dunia yang terus berubah.”
Keluarga: Sumber Kekuatan Sejati
Istrinya, Ermawati, selalu menjadi penopang di saat susah. Ketiga anak mereka menjadi saksi nyata perjuangan ayahnya:
-
Mujahidah Izzatil Ummah, lulusan Universitas Pamulang jurusan Manajemen Keuangan (2023), kini bekerja di perusahaan developer bagian keuangan.
-
Tsaniah Lailah Syawalni, mahasiswi UNJ, sedang menyelesaikan skripsi sambil mengajar di sebuah SMK Jakarta.
-
Faza Fauzan Adhim, santri yatim dhuafa di Pondok Tahfidz Qur’an Kebon Jeruk, Jakarta Timur, sudah hafal 30 juz sejak kelas 3 SMP, kini duduk di kelas 3 SMA.
Pesan Inspiratif
Abdul Manaf adalah bukti hidup bahwa pendidikan bukan milik mereka yang muda dan kaya, tetapi milik siapa saja yang mau berjuang.
“Saya ingin jadi contoh buat kawan-kawan sesama ojol. Jangan remehkan diri sendiri. Kita mungkin hanya pengemudi daring, tapi dengan ilmu, kita bisa memajukan diri dan bangsa.”
Kini, dengan toga di pundaknya dan semangat yang tak pernah padam, Abdul Manaf membuktikan bahwa tak ada kata terlambat untuk belajar, dan tak ada batas usia untuk bermimpi.
Comments
Post a Comment